Review Buku: Eat That Frog! – Kerjakan Tugas Terberat Lebih Dulu untuk Mengalahkan Penundaan

Review Buku: Eat That Frog! – Kerjakan Tugas Terberat Lebih Dulu untuk Mengalahkan Penundaan

Eat That Frog!: Stop Menunda Pekerjaan dengan 21 Trik Praktis

Review buku Eat That Frog! karya Brian Tracy — tentang cara mengalahkan penundaan dengan mengerjakan tugas terberat dan terpenting lebih dulu, mulai dari metafora makan katak, metode ABCDE, sampai prinsip 80/20. Sebuah tamparan halus untuk kita yang selama ini merasa sibuk, padahal cuma lari dari tugas utama.

Lewat tengah malam, ketika rumah sudah sepi, aku berbaring dan memutar ulang sebuah hari yang terasa begitu sibuk. Lalu sebuah kesadaran yang mengganjal perlahan muncul.

Sepanjang hari itu aku nyaris tidak berhenti bergerak. Aku membalas banyak pesan, menuntaskan tugas-tugas kecil, mengurus hal administratif yang menumpuk. Rasanya produktif, karena daftar pekerjaanku terus berkurang satu per satu.

Tapi di penghujung hari, saat aku merebahkan diri dengan lelah, sebuah kenyataan menghampiri. Satu tugas yang paling penting — tugas besar yang sebenarnya paling menentukan dan sudah lama harus kuselesaikan — justru masih utuh, tak tersentuh.

Sepanjang hari aku terus menggesernya. Ke nanti, lalu ke besok. Sambil menyibukkan diri dengan hal-hal lain yang lebih kecil dan lebih mudah.

Malam itu, di keheningan yang sunyi, sebuah pikiran yang tidak nyaman mulai terbentuk. Jangan-jangan, kesibukanku sepanjang hari itu bukanlah tanda produktivitas. Melainkan cara halus untuk menghindari satu hal yang paling penting sekaligus paling berat.

Jangan-jangan selama ini aku keliru. Aku mengira terus bergerak dan mengerjakan banyak hal sama artinya dengan mencapai sesuatu. Padahal kesibukan justru bisa jadi tempat persembunyian paling nyaman dari tugas yang benar-benar penting.

Aku teringat kegelisahan itu ketika membaca Eat That Frog! karya Brian Tracy. Buku produktivitas klasik ini menjawab persis kegelisahanku malam itu, lewat sebuah metafora yang sederhana tapi menempel kuat.

Pak De Tracy mengambil sebuah ujaran lama. Kalau hal pertama yang kita lakukan di pagi hari adalah memakan seekor katak hidup, maka kita bisa menjalani sisa hari dengan tenang — karena tahu itu mungkin hal terburuk yang akan kita hadapi hari itu. Dalam buku ini, katak itu adalah tugas terbesar, terpenting, dan justru paling sering kita tunda.

Pesannya sederhana: kerjakan katak terbesarmu, tugas terpenting yang paling kamu hindari itu, pertama kali, sebelum melakukan hal lain. Sebab menurut Pak De Tracy, kunci produktivitas bukanlah mengerjakan lebih banyak, melainkan mengerjakan hal yang paling penting lebih dulu.

Buat kita yang tiap hari bergulat dengan tumpukan tugas dan godaan menunda, buku ini terasa seperti tamparan yang menyadarkan sekaligus membebaskan. Meski, seperti akan kubahas dengan jujur nanti, di balik kesederhanaannya yang memikat, buku ini juga menyimpan beberapa keterbatasan yang perlu kita sikapi secara kritis.

Sekilas Tentang Buku Ini

Judul Eat That Frog!: 21 Great Ways to Stop Procrastinating and Get More Done in Less Time
Penulis Brian Tracy
Terbit Pertama 2001 (Berrett-Koehler Publishers)
Edisi Indonesia Ada — Eat That Frog!: Cara Dahsyat Mencapai Hasil Lebih Banyak dengan Bekerja Lebih Sedikit (Pustaka Alvabet; penerjemah Dewi Wulansari)
Tebal ±128 halaman (edisi asli) · ±168 halaman (edisi Indonesia)
Genre Nonfiksi, produktivitas, manajemen waktu, pengembangan diri
Rating Pribadi 7/10

Eat That Frog! ditulis oleh Brian Tracy, salah satu penulis dan pembicara pengembangan diri paling produktif, dengan puluhan buku tentang kesuksesan, penjualan, dan manajemen waktu. Buku ini termasuk karya produktivitas paling populer sepanjang masa, terjual jutaan kopi dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Kabar baik buat pembaca Indonesia: buku ini sudah punya terjemahan resmi bahasa Indonesia, diterbitkan Pustaka Alvabet dengan judul Cara Dahsyat Mencapai Hasil Lebih Banyak dengan Bekerja Lebih Sedikit, diterjemahkan oleh Dewi Wulansari. Salah satu kelebihannya adalah bentuknya yang sangat tipis, jadi bisa dibaca sekali duduk. Seperti biasa, kutipan-kutipan terkuatnya tetap kusertakan dalam bahasa Inggris aslinya di sepanjang ulasan ini.

Satu catatan kecil: Metafora “makan katak” ini sering dikira kutipan Mark Twain, padahal faktanya masih diperdebatkan. Tapi tenang saja, hal ini sama sekali nggak mengurangi daging dari isi bukunya.

Insight Menarik – Review Buku Eat That Frog!

Setiap buku yang bagus eberikan beberapa hal yang dapat selalu diingat, bahkan setelah halaman terakhir ditutup. Ada beberapa hal dari buku ini yang benar-benar mengubah caraku melihat to-do list.

Bahwa kesibukan bukanlah pencapaian, karena terus bergerak tidak sama dengan mengerjakan yang penting. Kita perlu mengerjakan tugas terbesar dan terpenting yang paling kita hindari lebih dulu, di awal hari. Kunci produktivitas bukanlah mengerjakan lebih banyak, melainkan mengerjakan yang paling bernilai.

Bahwa sebagian kecil aktivitas kita ternyata menghasilkan sebagian besar nilai dari pekerjaan kita. Dan bahwa bagian tersulit dari tugas penting sering kali hanyalah memulainya.

Semua contoh dalam buku ini praktis dan membumi. Di bawah ini beberapa poin yang aku dapatkan.

1. Makan Katak Itu: Kerjakan yang Terberat Lebih Dulu

Inti buku ini terangkum dalam satu aturan main yang sederhana:

“Your ‘frog’ is your biggest, most important task, the one you are most likely to procrastinate on if you don’t do something about it.”

— Brian Tracy, Eat That Frog!

Pak De Tracy menjelaskan bahwa katak dalam metafora ini adalah tugas terbesar dan terpenting dalam hidup kita, yang ironisnya paling sering kita tunda justru karena beratnya. Aturannya sederhana. Kalau kamu diwajibkan makan dua ekor katak, makanlah yang paling jelek dan besar duluan. Semakin lama kamu menatap katak itu di atas piring, rasanya bakal semakin menjijikkan.

Dan kalau kita memang harus memakan seekor katak hidup, tidak ada gunanya duduk terlalu lama hanya untuk menatapnya. Maksud Pak De Tracy, ketika ada tugas penting yang menanti, semakin lama kita menatap dan menundanya, semakin berat ia terasa.

Jadi cara terbaik adalah segera mengerjakannya di pagi hari, saat energi dan tekad masih penuh, sebelum hari dipenuhi gangguan dan alasan. Dengan menuntaskan tugas terberat ini lebih dulu, kita menjalani sisa hari dengan lega dan penuh momentum.

Yang membuatku merenung dari metafora ini adalah betapa ia menangkap kebiasaan burukku. Aku sering menunda tugas paling penting justru karena ia terasa paling menakutkan, lalu menyibukkan diri dengan hal-hal kecil sebagai pelarian. Padahal justru tugas-tugas yang paling kuhindari itulah yang biasanya paling besar dampaknya bagi hidupku.

2. Bukan Lebih Banyak, Melainkan yang Paling Penting

Salah satu gagasan paling mendasar dari buku ini adalah pergeseran cara pandang tentang apa arti produktif. Dari sekadar mengerjakan banyak hal, menjadi mengerjakan hal yang benar-benar penting.

“Remember this: activity is not accomplishment.”
— Brian Tracy, Eat That Frog!

Pak De Tracy mengingatkan sebuah kebenaran yang sering kita lupakan. Bahwa kesibukan dan aktivitas bukanlah hal yang sama dengan pencapaian. Kita bisa saja terlihat sibuk sepanjang hari, mengerjakan banyak hal. Tapi kalau semua itu bukan hal yang penting, sebenarnya kita tidak benar-benar mencapai apa-apa.

Karena itu ia menekankan pentingnya kejelasan (clarity). Yaitu tahu dengan pasti apa yang benar-benar penting dan paling bernilai untuk dikerjakan. Ia menyarankan kita berpikir di atas kertas, dengan menuliskan tujuan, membuat daftar tugas, dan merencanakan setiap hari sebelumnya.

Dengan kejelasan inilah kita bisa membedakan tugas yang sekadar mendesak dari tugas yang benar-benar penting. Yang membuatku paha betapa seringnya aku terjebak dalam ilusi produktivitas. Merasa puas karena sudah menuntaskan banyak tugas kecil, padahal tugas yang paling penting justru terabaikan.

Pak De Tracy mengajarkan bahwa produktivitas sejati bukanlah soal seberapa banyak yang kita kerjakan. Melainkan soal seberapa penting hal-hal yang kita pilih untuk dikerjakan.

3. Prinsip 80/20 dan Metode ABCDE: Seni Memprioritaskan

Untuk membantu kita membedakan mana yang benar-benar penting, Pak De Tracy menawarkan beberapa alat prioritisasi yang praktis. Di antaranya prinsip 80/20 dan metode ABCDE.

“One of the very worst uses of time is to do something very well that need not to be done at all.”
— Brian Tracy, Eat That Frog!

Prinsip 80/20, atau prinsip Pareto, menyatakan bahwa sekitar dua puluh persen dari aktivitas kita biasanya menghasilkan delapan puluh persen dari nilai dan hasil. Artinya, ada segelintir tugas yang dampaknya jauh lebih besar daripada yang lain, dan tugas-tugas inilah yang seharusnya jadi prioritas utama. Konsep ini selaras dengan buku The 80/20 Principle: The Secret to Achieving More with Less karya Richard Koch.

Untuk memprioritaskan lebih sistematis, Pak De Tracy menawarkan metode ABCDE. Ini bagian yang menurutku paling praktis untuk langsung dipakai:

  1. Tugas A (ust) — sangat penting dan harus dilakukan, karena punya konsekuensi serius kalau diabaikan.
  2. Tugas B (Should) — sebaiknya dilakukan, tapi konsekuensinya lebih ringan.
  3. Tugas C (Nice To Do) — menyenangkan untuk dilakukan tetapi tanpa konsekuensi nyata.
  4. Tugas D (Delegate) — sebaiknya didelegasikan kepada orang lain.
  5. Tugas E (Eliinate) — sebaiknya dihapus saja karena tidak penting.

Pak De Tracy juga menekankan pentingnya mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dalam menentukan prioritas. Sebab tugas yang benar-benar penting biasanya adalah yang berdampak besar di kemudian hari.

Yang membuatku merenung, betapa pentingnya keberanian untuk memilah dan bahkan menghapus tugas yang sebenarnya tidak penting. Sebab sering kali kita menghabiskan energi mengerjakan dengan sangat baik hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikerjakan sama sekali.

4. Single Handling: Kekuatan Fokus Tanpa Gangguan

Konsep penting lainnya yang ditawarkan Pak De Tracy adalah apa yang ia sebut single handling. Yaitu kemampuan fokus mengerjakan satu tugas penting sampai tuntas tanpa gangguan.

“The ability to concentrate single-mindedly on your most important task, to do it well, and to finish it completely, is the key to great success, achievement, respect, status, and happiness in life.”
— Brian Tracy, Eat That Frog!

Pak De Tracy berpendapat bahwa salah satu kunci terbesar produktivitas adalah kemampuan memusatkan perhatian penuh pada satu tugas terpenting, mengerjakannya dengan baik, lalu menyelesaikannya sampai seratus persen tuntas tanpa berpindah-pindah.

Ketika kita memulai sebuah tugas penting lalu terus-menerus terganggu dan beralih ke hal lain, kita kehilangan momentum. Kita harus memulai lagi dari awal setiap kali kembali, sehingga waktu yang dibutuhkan jadi jauh lebih lama. Sebaliknya, saat kita mengerjakan satu tugas secara penuh tanpa gangguan, kita bisa menyelesaikannya lebih cepat dan lebih berkualitas.

Konsep ini terasa sangat beririsan dengan gagasan tentang kerja mendalam yang menuntut konsentrasi penuh, seperti yang kubahas di ulasan buku Deep Work karya Cal Newport, yang menunjukkan bahwa kemampuan fokus tanpa gangguan adalah keterampilan yang makin langka sekaligus makin berharga di era yang penuh distraksi ini. Yang membuatku enegerti betapa mahalnya harga dari gangguan atau distraksi dan perpindahan tugas yang terus-menerus.

5. Penundaan Kreatif: Memilih dengan Sengaja Apa yang Kita Tunda

Nah, ini bagian favoritku. Kata Pak Dhe Tracy, semua orang itu pasti menunda pekerjaan. Bedanya cuma di apa yang mereka tunda. Salah satu gagasan paling cerdas sekaligus paling membebaskan dari buku ini adalah konsep yang Pak De Tracy sebut penundaan kreatif. Sebuah cara pandang yang berbeda tentang penundaan itu sendiri.

“Everyone procrastinates. The difference between high performers and low performers is largely determined by what they choose to procrastinate on.”
— Brian Tracy, Eat That Frog!

Pak De Tracy menawarkan pemahaman yang menyegarkan. Bahwa pada dasarnya semua orang menunda sesuatu, karena tidak ada seorang pun yang sanggup mengerjakan segala hal. Yang membedakan hidh perorer dan yang bukan bukanlah apakah mereka menunda atau tidak. Melainkan apa yang mereka pilih untuk ditunda.

Orang cenderung menunda tugas-tugas penting yang berdampak besar. Sementara high peorer secara sadar dan sengaja menunda tugas-tugas yang berdapak rendah. Inilah yang disebut penundaan kreatif.

Karena kita tidak mungkin mengerjakan semuanya, kita harus dengan sengaja memilih untuk menunda. Atau bahkan tidak mengerjakan hal-hal yang kurang penting. Supaya kita punya cukup waktu dan energi untuk hal-hal yang benar-benar berdapak besar.

Dengan begitu, penundaan bukanlah sesuatu yang harus selalu dihindari. Melainkan sesuatu yang bisa kita kelola secara cerdas. Yang membuatku engerti bagaimana konsep ini mengubah rasa bersalah tentang penundaan menjadi sebuah keputusan yang disengaja.

Sebab persoalannya bukan apakah kita menunda, melainkan apakah kita menunda hal yang tepat. Keberanian ebuang yang tidak penting demi yang benar-benar berdapak ini terasa sangat selaras dengan apa yang kubahas di ulasan buku Essentialism karya Greg McKeown, tentang seni mengejar lebih sedikit namun lebih bermakna.

Apa Kata Riset Terbaru?

Karena buku ini membuat banyak klaim praktis tentang produktivitas, menarik untuk melihat apa kata riset ilmiah terkini. Aku sengaja mencari studi yang berbeda dari yang sudah kubahas di ulasan buku produktivitas sebelumnya. Gambarannya menarik: secara umum gagasan inti Pak De Tracy ini cukup didukung, dengan beberapa catatan.

Bukti yang Mendukung

Mari mulai dari manajemen waktu secara umum. Sebuah meta-analisis besar pada 2021 di jurnal PLOS ONE yang menganalisis 158 studi menemukan bahwa manajemen waktu memang berhubungan positif dengan kinerja, prestasi, dan kesejahteraan — dan menariknya, dampaknya pada kesejahteraan, terutama kepuasan hidup, ternyata jauh lebih besar daripada dampaknya pada kinerja. Ini memberi nuansa yang menyegarkan. Bahwa makan katak mungkin lebih banyak menenangkan pikiran dan meningkatkan kepuasan hidup kita, daripada sekadar melipatgandakan hasil kerja.

Lalu bagaimana dengan inti gagasan Tracy, yaitu mengerjakan tugas tersulit lebih dulu? Sebuah studi lapangan pada 2025 di jurnal Personnel Psychology menemukan bahwa ketika para pekerja mengerjakan tugas yang lebih sulit di awal hari lalu beralih ke yang lebih mudah, mereka mengalami lebih sedikit kelelahan, merasa lebih rileks di penghujung hari, dan menunjukkan kinerja yang lebih baik — meski efeknya bervariasi antar individu tergantung gaya dan ritme kerja masing-masing. Temuan ini sejalan dengan eksperimen lain yang menguji langsung strategi makan katak, yang menemukan bahwa mengerjakan tugas tersulit lebih dulu memang membangun rasa percaya diri. Namun sayangnya kebanyakan orang justru cenderung salah memilih, lebih suka menunda tugas sulit karena keliru mengira urutan itu lebih baik bagi mereka. Ini justru menegaskan apa yang ingin dilawan Tracy: bahwa intuisi kita sering bertentangan dengan apa yang sebenarnya berhasil.

Catatan Jujurnya: Penundaan Sering Berakar pada Emosi

Ada satu catatan penting yang perlu kita catat dengan jujur. Sebuah penelitian pada 2022 di jurnal Frontiers in Psychology menemukan bahwa penundaan sering kali berakar pada kegagalan mengatur emosi — seperti menghindari rasa frustrasi, bosan, atau cemas — dan bukan semata karena kurangnya disiplin atau manajemen waktu. Ini berarti, bagi sebagian orang dengan penundaan yang kronis, solusi sederhana untuk tinggal mengerjakan katak terbesar saja mungkin tidak cukup. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dalam untuk mengelola emosi di baliknya.

Jadi kesimpulannya, bukti ilmiah secara umum mendukung pesan buku ini, dengan satu catatan tajam. Makan katak memang ampuh untuk banyak orang, tapi ia bukan obat mujarab untuk semua jenis penundaan.

Inti yang bisa kupegang: prinsipnya berguna, tapi perlu disesuaikan dengan ritme diri dan dilengkapi cara mengelola emosi bagi yang membutuhkannya.

Kelebihan dan Kekurangan

Menilai sebuah buku dengan jujur adalah bentuk penghormatan pada pembaca. Jadi biar adil mari kita bedah plus minusnya.

Kelebihan

Kekuatan terbesar buku ini ada pada kepraktisannya yang luar biasa. Buku ini sangat ringkas dan tipis, sehingga bisa dibaca sekali duduk tanpa membuang waktu — sebuah keunggulan yang langka.

Metafora katak yang sangat memorable dan mudah diingat. Ssehingga prinsipnya menempel kuat dan mudah diterapkan.

Banyak pembaca merasa terbantu untuk segera mulai bertindak setelah membacanya. Buku ini cocok sebagai pengingat sekaligus suntikan motivasi.

Selain itu, meskipun sederhana, prinsip-prinsip yang ditawarkan Pak De Tracy telah teruji oleh waktu, dan sebagian bahkan kini didukung penelitian. Seperti soal manfaat mengerjakan tugas sulit lebih dulu dan mahalnya harga gangguan.

Kekurangan

Untuk kekurangannya yang pertama, banyak nasihat dalam buku ini sebenarnya adalah coon sense yang sudah umum diketahui. Seperti mengerjakan yang penting lebih dulu, membuat daftar, dan memprioritaskan. Bagi pembaca yang sudah akrab dengan literatur produktivitas, gagasannya mungkin terasa kurang baru.

Kedua, klaim-klaimnya umumnya berdasarkan pengalaman dan unsur motivasional, bukan penelitian yang ketat. Sehingga kadang lebih terasa seperti ceramah motivasi.

Ketiga, buku ini cenderung menyederhanakan persoalan penundaan. Padahal seperti ditunjukkan riset, penundaan sering berakar pada masalah emosi yang lebih dalam, sehingga solusi tinggal kerjakan saja mungkin tidak cocok bagi semua orang.

Dan keempat, pendekatan buku ini cenderung satu ukuran untuk semua. Terutama anjuran untuk selalu mengerjakan tugas tersulit di pagi hari. Padahal tidak semua orang punya jam biologis yang sama, dan bagi mereka yang justru lebih produktif di sore atau malam hari, memaksakan tugas berat di pagi hari bisa jadi kontraproduktif.

Menurutku, cara terbaik membaca buku ini adalah dengan memperlakukannya sebagai pengingat praktis yang memotivasi. Bukan panduan ilmiah yang mendalam. Ambil prinsip-prinsip utamanya yang berguna, terutama tentang prioritisasi dan fokus, lalu sesuaikan dengan ritme dan kondisi diri kita masing-masing.

Daripada terpaku pada anjuran pagi hari, prinsip yang lebih akurat adalah mengerjakan tugas terpenting kita di waktu ketika energi dan fokus kita sedang berada di puncaknya.

Sebuah Renungan: Untuk Kita yang Suka Bersembunyi di Balik Kesibukan

Waktu menutup buku ini, aku diam lumayan lama. Dan untuk waktu yang lama aku memikirkan betapa seringnya aku memakai kesibukan sebagai tempat persembunyian dari tugas-tugas yang benar-benar penting namun terasa berat.

Aku sadar betapa seringnya aku berlindung di balik status “lagi sibuk nih”. Padahal jauh di lubuk hati, aku tahu aku cuma lagi lari dari tanggung jawab terbesarku.

Buat kita yang lagi ngejar target besar. Entah itu kebebasan finansial, launching karya atau proyek baru, atau sekadar pengen hidup lebih beres. Buku ini engingatkan pada satu hal yang cukup menohok: Aktivitas bukanlah pencapaian.

Sebab ada kenyamanan yang menipu dalam kesibukan. Sebuah perasaan produktif yang sebenarnya sering hanyalah pelarian dari hal yang paling menentukan.

Bahwa yang benar-benar mengubah hidup kita bukanlah seberapa banyak hal yang kita kerjakan. elainkan keberanian untuk menghadapi tugas terpenting yang paling kita hindari.

Tapi pada saat yang sama, buku ini juga mengajarkan kerendahan hati untuk mengenali diri sendiri. Bahwa setiap orang punya ritme dan caranya masing-masing. Dan bahwa kunci sejati bukanlah meniru formula secara kaku, melainkan menemukan cara yang paling sesuai bagi diri kita.

Ada satu kalimat dari buku ini yang sangat bagus yaitu:

“The hardest part of any important task is getting started on it in the first place. Once you actually begin work on a valuable task, you seem to be naturally motivated to continue.”

— Brian Tracy, Eat That Frog!

Kalimat itu menyentuh sesuatu yang dalam. Karena ia mengingatkan bahwa hambatan terbesar kita sering bukan pada menyelesaikan tugas, melainkan hanya pada memulainya.

Dan kalau malam ini kamu seperti aku, sedang merasa lelah karena terus-menerus sibuk tapi merasa tidak benar-benar maju, mungkin buku ini sedang membisikkan sesuatu yang menguatkan. Bahwa kamu tidak perlu menunggu sampai merasa siap atau termotivasi untuk memulai.

Kamu cukup memberanikan diri untuk memakan katak terbesarmu. Satu tugas terpenting itu di awal harimu. Begitu kamu memulainya, momentum akan datang dengan sendirinya.

Sebab pada akhirnya, produktivitas sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang kita kerjakan atau seberapa sibuk kita terlihat. Melainkan tentang keberanian untuk mendahulukan hal-hal yang paling penting, dan menjalaninya satu per satu dengan fokus dan ketenangan, di waktu terbaik yang kita miliki.

Kesimpulan dan Rating: 7/10

Eat That Frog! adalah buku yang praktis dan memotivasi. Ia menawarkan prinsip-prinsip sederhana namun berguna untuk mengalahkan penundaan dan menjadi lebih produktif.

Kekuatannya ada pada kepraktisannya yang ringkas, pada metafora katak yang memorable, serta pada prinsip-prinsip prioritisasi seperti metode ABCDE dan prinsip 80/20 yang teruji waktu dan sebagian didukung riset.

Kenapa 7 dan Tidak Lebih Tinggi

Aku memberinya nilai 7 dari 10. Biar kujelaskan kenapa.

Kelemahannya cukup terasa. Kontennya sering terasa seperti coon sense yang dikemas ulang. Klaimnya lebih bersifat motivasional daripada ilmiah. Dan pendekatannya cenderung satu ukuran untuk semua. Terutama soal anjuran pagi hari.

Dengan elihat semuanya, 7 dari 10 terasa pas. Sebuah buku produktivitas yang ringkas dan berguna, asalkan dibaca sebagai pengingat praktis yang perlu disesuaikan dengan ritme diri. Bukan sebagai formula kaku yang berlaku universal.

Buku ini kurekomendasikan terutama buat kita yang sering bergulat dengan penundaan dan ingin mulai memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting.

Kabar baiknya, terjemahan resminya sudah tersedia. Dan bukunya sangat tipis. Kita bisa membacanya dengan cepat dan mudah.

Buatku pribadi, pesan terbesar dari buku ini sederhana. Bahwa mengalahkan penundaan bukan soal menjadi lebih sibuk, melainkan soal berani memulai, tepat memilih, dan fokus menyelesaikan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apakah buku Eat That Frog! sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya?

Sudah. Buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan secara resmi dalam bahasa Indonesia oleh Pustaka Alvabet, dengan judul Eat That Frog!: Cara Dahsyat Mencapai Hasil Lebih Banyak dengan Bekerja Lebih Sedikit, dan diterjemahkan oleh Dewi Wulansari. Jadi pembaca Indonesia bisa membacanya dalam bahasa Indonesia. Tersedia juga edisi impor bahasa Inggris, termasuk edisi-edisi terbaru yang sudah diperbarui dengan bahasan tentang teknologi dan distraksi digital.

2. Apa arti “Eat That Frog” atau makan katak?

Eat That Frog atau makan katak adalah metafora untuk mengerjakan tugas terbesar, terpenting, dan paling sering kita tunda, pertama kali di awal hari sebelum melakukan hal lain. Metafora ini berasal dari ujaran lama bahwa kalau hal pertama yang kita lakukan di pagi hari adalah memakan seekor katak hidup, maka kita bisa menjalani sisa hari dengan tenang. Karena tahu itu mungkin hal terburuk yang akan kita hadapi. Inti pesannya: hadapi tugas tersulitmu lebih dulu, agar sisa harimu terasa lebih ringan dan penuh momentum.

3. Apa itu metode ABCDE dalam Eat That Frog?

Metode ABCDE adalah cara memprioritaskan tugas yang ditawarkan Brian Tracy. Tugas A adalah tugas yang sangat penting dan harus dilakukan karena punya konsekuensi serius. Keudian tugas B adalah tugas yang sebaiknya dilakukan dengan konsekuensi yang lebih ringan. Dan selanjutnya tugas C adalah tugas yang menyenangkan tetapi tanpa konsekuensi nyata. Tugas D adalah tugas yang sebaiknya didelegasikan kepada orang lain. Dan tugas E adalah tugas yang sebaiknya dihapus saja karena tidak penting. Dengan metode ini, kita bisa fokus mengerjakan tugas-tugas A yang paling berdampak lebih dulu.

4. Apa perbedaan Eat That Frog dengan The 5 Second Rule?

Keduanya adalah buku tentang cara mengatasi penundaan. Tetapi dengan pendekatan yang berbeda dan saling melengkapi. Eat That Frog! karya Brian Tracy berfokus pada prioritisasi, yaitu memilih tugas terbesar dan terpenting untuk dikerjakan lebih dulu, lalu menyelesaikannya dengan fokus. Sementara The 5 Second Rule karya Mel Robbins berfokus pada dorongan singkat untuk segera bertindak, dengan menghitung mundur lima sampai satu lalu langsung bergerak sebelum otak menyabotase niat kita. Eat That Frog! memberi peta tentang tugas apa yang harus diprioritaskan, sementara The 5 Second Rule memberi pemicu untuk segera memulainya.

5. Apa kritik utama terhadap buku Eat That Frog?

Kritik utamanya adalah bahwa banyak nasihatnya terasa seperti coon sense yang sudah umum diketahui dan dikemas ulang. Sehingga kurang terasa baru bagi pembaca yang sudah akrab dengan literatur produktivitas. Selain itu, klaim-klaimnya lebih bersifat motivasional daripada didukung penelitian yang ketat, dan buku ini cenderung menyederhanakan persoalan penundaan yang sebenarnya sering berakar pada masalah emosi. Buku ini juga bersifat satu ukuran untuk semua, terutama anjuran mengerjakan tugas tersulit di pagi hari, yang mungkin tidak cocok untuk orang yang lebih produktif di sore atau malam hari.

6. Berapa rating buku Eat That Frog versi review ini?

Di blog ini, Eat That Frog! mendapat rating 7 dari 10. Buku ini dinilai berharga karena kepraktisannya yang ringkas, metafora kataknya yang memorable, dan prinsip-prinsip prioritisasinya yang teruji waktu serta sebagian didukung riset. Nilainya sedikit tertahan karena kontennya yang sering terasa seperti coon sense yang dikemas ulang. Klaimnya yang lebih bersifat motivasional daripada ilmiah. Dan pendekatannya yang cenderung satu ukuran untuk semua. Ini adalah buku produktivitas yang ringkas dan berguna terutama bagi pemula, asalkan dibaca secara kritis dan disesuaikan dengan ritme diri.


Ulasan ini ditulis oleh Agus Bekti Rohmadi. Ia membaca Eat That Frog! bukan sebagai seorang pakar produktivitas atau manajemen, melainkan sebagai seorang pembelajar yang ingin berhenti menunda, mendahulukan hal-hal yang benar-benar penting, dan membangun kebiasaan fokus yang sederhana di tengah hari-hari yang sibuk.

Bagi yang tertarik menyelami tema mengalahkan penundaan dan fokus pada hal yang benar-benar penting, ada ulasan buku The 5 Second Rule karya Mel Robbins tentang dorongan singkat untuk segera bertindak sebelum otak menyabotase niat kita — pelengkap yang pas untuk Eat That Frog! yang berfokus pada memilih tugas terberat yang tepat. Ada pula ulasan buku Deep Work karya Cal Newport tentang kekuatan fokus tanpa gangguan, serta ulasan buku Essentialism karya Greg McKeown tentang seni mengejar lebih sedikit namun lebih bermakna. Dan untuk melengkapi soal menjaga fokus pada hal-hal mendasar, ada juga ulasan buku The Checklist Manifesto tentang bagaimana alat sesederhana daftar periksa bisa membantu kita menaklukkan kerumitan dan mengurangi kesalahan.

Written by

Agus Bekti Rohmadi

Industrial Engineer and founder of Hayafala Type Studio, TROZBIT, and Oddthetic. Writes about books, productivity, data, and lessons learned along the way.

Linkedin

Instagram

Threads

Share :

Related Article

Scroll to Top